Home » ragam » Kujemput “engkau” dengan istighfar

Kujemput “engkau” dengan istighfar


sumber: onislam.net

sumber gambar: onislam.net

Pernah baca buku “Kupinang Engkau dengan Hamdalah”? Ya, itu salah satu buku karya Ustadz Fauzil Adhim yang cukup laris. Tentang apa bukunya? bisa ditebak lah ya dari judulnya. Bukunya insya Allah bermanfaat kok, mangga dibaca bagi yang berminat.

Jadi, apa hubungan buku tersebut dengan tulisan ini? Sebenarnya saya cuma tertarik “mengadaptasi” judulnya saja, hehe. Kita pasti sudah paham bahwa kalimat-kalimat sakral/kalimah thayyibah seperti basmallah, hamdalah, istighfar, dll disunnahkan untuk selalu kita baca. Tidak hanya pada dzikir setelah shalat, tapi juga pada kegiatan-kegiatan lainnnya (kecuali kalau sedang berhajat di kamar mandi).  Ternyata, kalimat-kalimat tersebut tidak “hanya” bermanfaat ketika di akhirat kelak, tapi juga di dunia lho. Buktinya Ustadz Fauzil Adhim bikin buku dengan judul itu toh? tiap kalimat thayyibah punya “khasiat”nya masing-masing. Nah, yang mau dibahas, secukupnya, disini adalah istighfar. Sambil cerita aja deh ya, soalnya pengetahuan ini juga didapat dari seorang ustadz tempat saya ngaji rutin.

Jadi ceritanya, waktu itu sedang bahas bab taqwa, salah satu ayat yang dibahas adalah Ali Imran: 133

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.”

Di ayat ini digunakan kata سارعوا yang berarti bersegeralah/bergegaslah, dan kita diperintahkan untuk bersegera kepada ampunan terlebih dahulu (مغفرة) baru setelah itu dapat menikmati surga yang diruntukkan bagi orang-orang bertakwa. Jadi, kalau mau masuk surga harus jadi orang bertakwa, dan orang bertakwa itu ya orang-orang yang mendapatkan ampunan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Minta ampunnya juga harus bersegera, dan salah satu cara memohon ampunan kepada Allah adalah dengan ber-istighfar sebanyak-banyaknya.

Seperti yang ditulis tadi, bahwa manfaat istighfar “bukan hanya” surga (seolah-olah surga itu sepele ya, haha), tapi banyak manfaat di dunianya. Cerita lagi deh ya…

Jadi ceritanya, alkisah suatu hari Al-Hasan Al-Bashri (salah satu ‘ulama para tabi’in) didatangi oleh orang-orang yang mengadu kepada beliau tentang berbagai masalah, ketika diadukan tentang masalah paceklik/pertaniannya kurang menghasilkan, beliau memberi solusi “Beristighfarlah kepada Allah”. Lalu ada orang mengadu soal kemisikinan, beliau memberi solusi, “Beristighfarlah kepada Allah”. Kemudian datang lagi orang yang minta didoakan supaya dikaruniai anak, beliau pun memberi solusi yang sama, “Beristighfarlah kepada Allah”. Salah seorang yang hadir disitu bertanya “Kenapa engkau menyuruh mereka semua beristighfar?”. Beliau pun menjawab, “Aku tidak mengatakan hal itu sendiri, tapi sungguh Allah telah berfirman dalam surat Nuh

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً . يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَاراً . وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَار

Aku (Nabi Nuh) berkata (pada mereka), “Beristighfarlah kepada Rabb kalian, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan kepada kalian hujan yang lebat dari langit. Dan Dia akan memperbanyak harta serta anak-anakmu, juga mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu”(Q.S. Nuh: 10-12)

Jadi Allah pun sudah menjamin, dengan beristighfar, Allah akan menurunkan hujan (rizqi) yang lebat yang akan menyuburkan tanah-tanah pertanian, dan akan memperbanyak harta dan anak-anak, serta menyediakan kebun-kebun dan sungai-sungai. Gimana? It’s a WOW, isn’t it?

Cerita lagi nih, suatu ketika, Imam Ahmad ibn Hanbal sedang melakukan safar ke tempat yang jauh dan beliau kemalaman sehingga terpaksa mencari penginapan. Setelah mencari-cari, Imam Ahmad tidak juga mendapatkan tempat menginap. Akhirnya Imam Ahmad memtuskan menginap di masjid. Tapi ternyata tidak diizinkan oleh penjaga masjid. Imam Ahmad terus membujuk, tapi si penjaga masjid tetap tidak mengizinkan. Di tengah perselisihan itu lewatlah seseorang yang setelah mendengar perkaranya menawarkan kepada Imam Ahmad untuk menginap di tempatnya. Setelah berada di rumah orang tersebut, diketahuilah bahwa dia adalah seorang tukang roti. Imam Ahmad memperhatikan, orang tersebut melakukan pekerjaannya, menyiapkan adonan roti, dsb sambil terus beristighfar. Imam Ahmad pun bertanya, “Saya perhatikan Anda terus beristighfar, apakah ada khasiat khusus dari istighfar”?. Orang itu menjawab, “saya merasa semua kebutuhan saya terpenuhi, namun ada satu doa saya yang belum juga dikabulkan”, “apa itu?”, “saya ingin bertemu dengan Imam Ahmad ibn Hanbal”. Imam Ahmad pun terpana dan menjawab “saya Ahmad ibn Hanbal”.

So? mari kita jemput kemudahan, rizqi, dan keuntungan-keuntungan lainnya dengan merutinkan dan memperbanyak frekuensi istighfar. 🙂

Wallahu a’lam…

 

referensi tambahan:

muslim.or.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s