Home » ragam » Pendusta

Pendusta


keep-calm-and-talk-properly

gambar begini lagi musim

Waktu saya dan adik saya masih bocah, adik saya punya kebiasaan yang lumayan lucu. Dia suka membuat rahasia, ya rahasia. Tau darimana rahasia? Soalnya dulu dia sering bercerita -namanya juga anak kecil- lalu di akhir cerita dia akan bilang “jangan bilang siapa-siapa ya, rahasia”. Tapi lucunya, begitu ketemu orang lain untuk cerita, dia akan cerita yang sama dan membuat request yang sama, haha.

Kenapa tiba-tiba jadi inget tentang ini? Nah, latar belakangnya adalah, saya beberapa kali mendapati ada sebagian orang yang perilakunya mirip adik waktu masih kecil itu. Mirip lho ya, bukan sama, kasusnya beda. Kalau adik saya ini kan membeberkan “rahasia”nya sendiri, jadi ga masalah. Kalau yang dibeberkan itu rahasia orang lain? Gimana hayoo?

Makhluk bernama manusia ini memang unik. Sepertinya setiap orang bisa dipastikan punya rahasia yang tidak ingin diketahui oleh orang lain, tapi di satu sisi, terkadang seseorang butuh tempat untuk menceritakan rahasianya tersebut, yah katakanlah curhat. Nah, masalah bisa timbul kalau tempat berceritanya bermasalah, sering bocor sehingga perlu dilapis cat anti bocor, hehe. Kalau udah bocor, bisa jadi timbul masalah baru. Masalah yang ditimbulkan sebanding dengan tingkat kerahasiaan informasinya, ya ga?

Lantas, siapa yang salah? sekilas mungkin terlihat yang salah adalah yang membocorkan rahasia. Udah dibilang jangan bilang ke siapa-siapa kok malah cerita, dasar pengkhianat! Hehe, mungkin gitu ya kira-kira. Namun di sisi lain, bisa dibilang pihak pertama, yang punya informasi, juga salah. Harusnya kalau mau cerita liat-liat dulu orangnya, bisa dipercaya ga? “ember” ga? Atau, sebenernya perlu banget ga sih cerita? kalau memang sebegitu rahasianya ya sebaiknya ga usah diceritain toh?

Yak, itulah sebabnya Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, jauh-jauh hari sudah bersabda

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah)

Jadi, sebelum kita bicara, perhatikan dulu, ini baik atau tidak, perlu atau tidak, dan yang terpenting lagi benar atau tidak. Jangan-jangan kebenarannya belum pasti. Hal ini tidak hanya untuk pihak pertama alias si pencerita, yang jadi pihak kedua atau pendengar pun selayaknya memperhatikan hal tersebut. Tambahan lagi, seandainya kita jadi pendengar dan pencerita meminta untuk merahasiakannya, ya seharusnya dirahasiakan, seremeh apapun, sesepele apapun tampaknya informasi itu. Karena ini bukan hanya soal omongan dan efeknya gimana, tapi soal kepercayaan, ya ga?

Cukuplah orang itu dikatakan pendusta apabila menceritakan setiap yang dia dengar.” (HR.Muslim:1/12, bersumber dari Hafsh bin ‘Ashim)

Tuh, ga harus bohong untuk jadi pendusta. Memang sih, maksud hadits ini (kalau saya tidak salah ingat) adalah anjuran agar kita tidak sembarangan menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya. Yah, setidaknya bisa diambil hikmahnya lah, jangan sampai kita jadi pendusta tanpa sadar. Yang namanya pendusta pastinya tidak akan dipercaya (lagi) oleh orang lain. 🙂

Ah, sudah cukup meracaunya, semoga ada manfaatnya, terutama buat saya. Yah, paling tidak bisa mengisi kekosongan blog saya, hehe.

Wallahu a’lam bish-shawwab.

2 thoughts on “Pendusta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s