Home » ragam » “Kalau Bisnis Harus Manfaat!” – Hikmah dari Bumi Ruwa Jurai

“Kalau Bisnis Harus Manfaat!” – Hikmah dari Bumi Ruwa Jurai


“Kalau setiap hotel diwajibkan untuk ngasih souvenir, harga dua ribu perak aja, trus yang buat para pengrajin kecil, berapa orang yang idup? hah? berapa keluarga yang idup?”

Itulah (kira-kira) salah satu kalimat yang saya ingat dari ngobrol-ngobrol dengan Bang Zul, pemilik dari Sanggar Tapis “Ruwa Jurai”, Bandar Lampung. Waktu itu saya dan teman saya sedang mengajukan usulan kerja sama antara Sanggar Tapis “Ruwa Jurai” dengan SandangIndonesia.com, start-up yang sedang saya bangun bersama teman-teman satu almamater. Pada awalnya kami hanya berniat untuk memperkenalkan usaha kami dan manawarkan kerja sama dengan beliau, yaitu kami akan mempromosikan produk-produk dari Sanggar Tapis “Ruwa Jurai” ini melalaui toko online kami. Saya tertarik mengajukan kerja sama dengan sanggar ini karena produk-produknya sangat khas Lampung dan jenis produknya cukup lengkap, mulai dari kain bahan, kain Tapis, kain Tenun, hiasan dinding, Songket, gaun, dsb. (kok malah kayak promosi ya? haha). Yah, intinya begitulah, bisa dimengerti? 😀

Setelah perbincangan bergulir, justru kami yang tertegun, saya sendiri merasa tertampar bolak-balik, tertusuk, jleb banget lah rasanya. Awalnya yang ada di pikiran kami, kami akan berbicara mengenai teknis pengoperasian dan pembagian tugas dalam menggunakan sistem SandangIndonesia.com, manfaat penggunaannya, dan hal-hal teknis lainnya. Biasalah (mantan) mahasiswa (apalagi dari ‘kampus gajah duduk’, hehe), kadang-kadang suka merasa pinter sendiri. Namun, apa yang terjadi? Bang Zul lah yang banyak memimpin pembicaraan, beliau banyak berbicara tentang kebermanfaatan kita terhadap sesama, beuh, bahwa seharusnya kita sebagai manusia tuh ga mikirin diri sendiri, ga mikirin untung sendiri. Beliau banyak bercerita tentang kondisi para perajin kecil, beliau juga mempekerjakan cukup banyak perajin kecil, yang sebenarnya sangat membutuhkan peran pemerintah. Beliau berbicara tentang keprihatinannya terhadap kondisi masyarakat Indonesia yang berada pada garis kekurangan, yang taraf hidupnya kurang layak. Beliau berpendapat kriminalitas banyak terjadi karena perut rakyat kita kosong, dan seharusnya kita, terutama pemerintah, punya andil untuk mengisi perut yang kosong tadi.

Beberapa kalimat beliau yang masih saya ingat adalah sebagai berikut (maaf ya Bang kalo redaksinya salah-salah). “kalau misalnya aja ya, setiap hotel itu diwajibkan untuk ngasih kenang-kenangan, misalnya sapu tangan, yang ada logo hotelnya, harga dua ribu perak aja, terus yang disuruh bikin para perajin kecil, berapa orang yang idup? coba itung, misalnya satu perajin keluarganya ada tiga orang, berapa orang yang dikasih makan?”
“lantas siapa yang bisa menekan hotel-hotel itu? pemerintah daerah”
“nah, tugas kamu orang (baca : kalian) itulah, mahasiswa-mahasiswa itu untuk mendobrak pemerintah supaya mau”
“kalau prinsip saya itu kayak rumah makan, banyak kan ya? dagangnya sama kan? tapi semuanya abis kan? iya kan? rezeki mah Allah yang ngatur”

“jadi gimana caranya kita bisa bermanfaat, ga sekedar bisnis”

“hidup itu cuma sebentar, kita ini ga punya apa-apa di dunia, bener ga?”

Jleb! jleb! jleb! Beliau yang “hanya” pedagang, bukan ulama, mikirnya begitu dalam, begitu menghayati arti hidup dan “tugas” kita sebagai manusia. Sedangkan saya, yang ngakunya kuliah di Institut Terbaik Bangsa, yang ngakunya “ngaji”, kalo ada tawaran kerja, yang ditanya duluan “gajinya berapa?”. Duh…astaghfirullah… 😦

Padahal Rasulullah shallalhu ‘alaihi wa sallam bersabda

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia.” (Hasan: Shahih Al-Jami’ no. 3289)

dan kita juga tau, setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Jadi buat apa kita capek-capek usaha di dunia kalau tidak untuk bermanfaat bagi sesama?

wallahu waliyyut taufiq

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s