Home » curhat » Menyulut Petasan Hukumnya Haram (?)

Menyulut Petasan Hukumnya Haram (?)


sumber gambar : programatujuh.wordpress.com

Pernah dengar kalimat atau fatwa seperti pada judul di atas? Belum?
Sebenarnya fatwa tentang haramnya petasan itu sudah ada sejak setahun lalu. Fatwa tersebut dikeluarkan oleh MUI Jember, Jawa Timur. Pertimbangan dari dikeluarkannya fatwa tersebut mungkin sudah dapat ditebak ya? Petasan tu jelas mengganggu (suaranya itu lho), bahaya (apalagi kalau sampe kebakaran), dan mungkin masih banyak lagi efek negatifnya. Ga percaya kalo ada fatwanya? Nih beritanya ada disini.

Ada yang berpendapat “Ah lebay ah, gitu aja maen haram-haraman“? hehe. Hmm, saya sendiri bukan mau mengomentari tentang fatwanya. Insya Allah para pengurus MUI itu lebih mumpuni, lebih tinggi ilmunya, dan lebih paham dari saya tentang pertimbangan dikeluarkannya fatwa tersebut, dari segi syariah tentunya.

Terus? mau nulis tentang apa?

Yah, coba lihat dari sisi praktisnya deh, lihat di lapangan aja. Petasan tu emang dari sononya berisik banget kan ya? makin mahal makin gede suaranya (eh, bener ga?). Trus, belinya kan pake uang tuh ya -ya iyalah, masa’ pake bulu idung? 😐 – trus udah gitu dibakar, bikin suara sekenceng-kenceng apa tau, dan yang lebih nyebelin lagi (setidaknya buat saya) sering dinyalain pas waktu shalat tarawih ato siang-siang pas jam kerja. Bayangin aja, ganggu ga sih kira-kira? Setidaknya, udah beberapa hari ini saya sering “sport jantung” gara-gara denger suara keras tiba-tiba, apalagi kalo bukan petasan. Lagi fokus kerja, eh, tiba-tiba “duaaarrr”, lagi enak-enaknya denger bacaan imam shalat, ujug-ujug “duaaarrrr”. Please deh -___-”

Saya pribadi sih mikirnya, mungkin pantes-pantes aja kalo petasan dibilang haram, kenapa?

  1. Buang-buang duit a.k.a mubadzir, ada manfaatnya ga sih? buat seneng-seneng? masih banyak hiburan lain yang lebih manfaat kayaknya 😐
  2. Bahaya, kalo misalnya kena barang-barang lain, bisa kebakaran (sepertinya udah ada beberapa kasus kebakaran karena petasan)
  3. Ganggu orang lain, apalagi kalo ada yang jantungan, kan kasian 😦

Eh, poin-poin di atas belum pake dalil naqli ya, haha.

Saya sih cuma mau menekankan yang poin ke-3. Tetangga itu kan orang-orang yang tinggal di dekat kita ya? Terus, menyebabkan terjadinya kaget, ketidaknyamanan ketika shalat dan kerja, dsb bisa dikategorikan mengganggu tetangga kan ya? Nah, menggangu tetangga tu berat hukumnya, saudara-saudari. Apalagi kalo keterusan

Abu Hurairah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ لاَ يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

Seorang yang senantiasa mengganggu tetangganya niscaya tidak akan masuk surga.” (HR. Muslim)

Hmm, segitu aja deh, khawatir malah menggangu yang lain, hehe
Kalau ada yang salah mohon dikoreksi ya… 😀

Wallahu a’lam bish-shawwab

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s