Home » ragam » Belajar “Makna” Hujan

Belajar “Makna” Hujan


Beberapa hari ini, setidaknya dalam dua hari terakhir, hujan mengguyur dengan deras di Bandung. Saat tulisan ini dibuat pun saya sedang “berlindung” dari hujan di suatu tempat di dekat kampus, hehe. Yah… sepertinya semua muslim pastinya sudah mafhum bahwa hujan adalah salah satu bentuk rahmat Allah subhanahu wa ta’ala kepada makhluknya. Oleh karena itu, tidak sepantasnya seseorang yang mengaku muslim lantas menggerutu apalagi mencaci-maki yang namanya hujan, kan hujan tidak salah apa-apa, hehe.

hujan di salman

hujan di salman

Hujan memang salah satu bentuk kasih sayang Allah kepada makhluknya yang ada di bumi, tidak hanya manusia tapi juga hewan dan tanaman.  Oleh karena itu kita harus menyambutnya dengan positif, bahkan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kita adab ketika turun hujan, yaitu berdo’a yang berbunyi “Allahumma shayyiban naafi’an“. Lebih lengkapnya haditsnya seperti ini

”Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila melihat awan (yang belum berkumpul sempurna, pen) di salah satu ufuk langit, beliau meninggalkan aktivitasnya –meskipun dalam shalat- kemudian beliau kembali melakukannya lagi (jika hujan sudah selesai, pen). Ketika awan tadi telah hilang, beliau memuji Allah. Namun, jika turun hujan, beliau mengucapkan, “Allahumma shoyyiban nafi’an” [Ya Allah jadikanlah hujan ini sebagi hujan yang bermanfaat].” (Lihat Adabul Mufrod no. 686, dihasankan oleh Al-Albani)

Hujan juga dapat bermakna ampunan dari Allah kepada hamba-hambaNya, sebagaimana firman-Nya dalam surah Nuh ayat 10-12

Maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun,niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.”

Maka dari itu justru kita harus waspada ketika Allah tidak jua menurunkan hujan di daerah kita, karena tidak turunnya hujan dapat menjadi pertanda bahwa Allah sedang “menegur” kita karena maksia dan dosa kita. Hal ini dapat disimpulkan dari sabda RasulNya yang mulia berikut ini

Dari Buraidah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Tidaklah suatu kaum mengingkari janji mereka melainkan akan ada pembunuhan di tengah-tengah mereka. Tidaklah tampak perbuatan keji di tengah-tengah suatu kaum melainkan Allah akan kuasakan kematian pada mereka. Dan tidaklah suatu kaum enggan mengeluarkan zakat melainkan Allah akan menahan hujan untuk mereka.” ( Lihat Ash Shahihah no. 107. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.)

Tapi jangan berarti kita lantas ge er dan merasa bersih dari dosa (emangnya bayi?) ketika hujan masih turun dengan lebatnya di negeri kita. Karena, masih kata Rasulullah, ketika orang-orang sudah enggan membayar zakat maka Allah akan mencegah turunnya hujan di negeri mereka yang enggan itu. Hujan masih mungkin turun di negeri tersebut namun semata-mata karena rahmat Allah kepada hewan ternak.

Jika suatu kaum enggan mengeluarkan zakat dari harta-harta mereka, maka mereka akan dicegah dari mendapatkan hujan dari langit. Sekiranya bukan karena binatang-binatang ternak, niscaya mereka tidak diberi hujan.”(HR. Thobroni dalam Al Mu’jam Al Kabir (13619). Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih. )

Yak, begitulah sedikit “cerita” tentang hujan. Semoga kita jadi bisa lebih bersyukur dengan masih turunnya hujan di negeri kita dan semoga hujan yang diturunkan pun memang rahmat Allah yang ditujukan kepada kita. 🙂

sumber : rumaysho.com 

4 thoughts on “Belajar “Makna” Hujan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s