Home » curhat » Obrolan Singkat dengan Supir Angkot

Obrolan Singkat dengan Supir Angkot


Siang ini kebetulan saya pulang lebih awal. Awalnya memang ingin “bertahan” di kampus untuk mengerjakan “sesuatu dua huruf“, tapi ternyata situasi jadi tidak kondusif. Ya sudah, pulang saja.

Karena lebih cepat untuk dicapai dari labtek, saya memilih pulang lewat gerbang belakang dan sudah tentu yang ada disana adalah angkot trayek Cisitu-Tegal Lega. Saya pun menaiki angkot tersebut yang ternyata kosong melompong, hanya ada supirnya. Setelah duduk tiba-tiba bapak supir itu menyapa “wah, tumben sepi ya dek, apa karena BBM mau naik?”, lalu saya menjawab sekenanya “iya mungkin, Pak.”. Saya perhatikan, sepertinya bapak itu umurnya berkisar antara 40 sampai 50-an tahun.

Obrolan pun berlanjut seputar isu demo mahasiswa dan kenaikan BBM, salah satu komentarnya, “yah..mungkin kalau untuk yang menengah gak apa-apa naik, yang kasian ya yang kecil-kecil ini”, saya pun kembali mengiyakan. Bapak itu melanjutkan, “Ya kalo kayak bapak ini, anak tujuh, untuk yang empat udah kerja, nah yang tiga masih sekolah…”. Obrolan pun berlanjut sekenanya sampai ada penumpang lagi yang menaiki angkot. Angkot pun berjalan ketika penumpang sudah mencapai empat orang, termasuk saya. Miris juga sebenarnya, karena dua orang penumpang turun dengan jarak yang relatif dekat, yang satu di Circle K dan yang satu lagi di depan Jalan Cisitu Baru, dan masing-masing tentunya hanya membayar 1000 rupiah. Saya pun tidak lama kemudian turun juga, dan sampai saya turun dari angkot tidak ada tambahan penumpang.

Memang, kenaikan BBM bukan hanya berdampak pada mahalnya biaya transportasi tapi juga berdampak pada naiknya harga bahan makanan dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Bahkan kenaikan harga ini sudah dimulai sebelum harga BBM naik. Yah…ini hanya sekadar cerita saja, pengingat buat saya bahwa yang paling merasakan kesusahannya adalah rakyat kecil, rakyat yang penghasilannya pas-pasan, orang-orang yang mencari pendapatan di jalan, contohnya ya supir angkot tadi.

Semoga pemerintah bisa lebih bijak nantinya, atau orang-orang yang masih mampu,  mempunyai kelebihan rezeki, atau mempunyai pemikiran yang membangun bisa ikut berperan memperbaiki kondisi bangsa ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s